Begitu banyak pemahaman tentang teori pembangunan karakter,
manajemen, buku-buku penuntun sukses yang telah dipelajari, namun begitu banyak
pula yang sudah di lupakan atau dihafal hanya sebatas teori dan tidak
dipraktikan sama sekali, akhirnya ilmu tersebut terbuang percuma, bahkan pada
saat ilmu-ilmu itu seharusnya digunakan, kita sering lupa, tatkala diingat
kembali barulah kita menyesal sebuah peluang emas telah kita lewatkan begitu
saja atau masalah yang seharusnya di tuntaskan tidak mampu di selesaikan dengan
baik.
Buku-buku penuntun sukses modern dan pembentukan kepribadian saat
ini, isinya seringkali begitu megagumkan, saat membacanya saya berdecak kagum
akan kebenaran teori tersebut. Pada saat itu saya yakin dan mampu untuk
memperaktekan teori dari buku-buku tersebut. Saya memang berhasil memahami
tentang arti berfikir positif, orientasi pada tujuan, empati, komitmen atau
sinergi. Tetapi setelah 2 bulan, sudah lupa untuk mempraktikan konsep dari buku
tersebut dan kembali kepada kebiasaan lama.
Contoh lain juga di alami ketika menonton sebuah acara TV,
kata-kata yang membangun semangat, karakter, kepribadian yang kuat serta
berpegang teguh kepada prinsip semua itu hanya sesaat dalam tiga hari semua itu
hilang dan kembali lagi kepada kebiasaan lama. Hal serupa juga terjadi ketika
bertemu dengan teman lama, memberikan motivasi lewat ucapan langsung bertatap
muka, semua itu hanya sesaat hanya mampu bertahan beberapa hari saja. Setelah itu
semuanya kembali lagi kepada kekebiasaan lama. Sangat menyedihkan
Dalam buku Ary Ginanjar Agustian, Stephen R Covey menyebutkan ”Taburlah
gagasan, petiklah perbuatan, taburlah perbuatan, petiklah kebiasaan, taburlah
kebiasaan, petiklah karakter, taburlah karakter, petiklah nasib” artinya
untuk membangun karakter tidaklah cukup hanya dengan membaca buku saja bahkan
dengan pelatihan penuh selama 1 minggu saja. Namun dibutuhkan sebuah mekanisme
pelatihan yang terarah dan tiada henti secara berkesinambungan.
Continue,,,,
